Membunuh UMKM Lewat Televisi

Rabu, 15 Februari 2017 - 08:36:38 WIB
Oleh: Admin Humas NTB
Dibaca 140 kali
 | Kategori: Opini

Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan pondasi terkuat perekonomian Indonesia. Ketangguhannya telah teruji oleh waktu. Secara nasional, UMKM merupakan 99,98 persen unit usaha di Indonesia, menyumbang 57 persen PDB nasional  dan lebih dari 97 persen penyerapan tenaga kerja domestik. Ketika krisis ekonomi 1998 menerpa, UMKM justru menjadi penyelamat ketika industri besar berguguran.

UMKM seperti rumput, kecil namun kuat. Takkan jatuh bila diinjak seperti apapun.  Namun semua kelebihan ini tidak berarti membuat UMKM abadi, karena saat ini telah muncul gejala yang menuju ke arah kematian UMKM.

Munculnya Tanda – Tanda Kematian UMKM

Seperti rumput,satu-satunya hal yang dapat membunuhnya hanyalah ketiadaan air. Dalam realitas kehidupan, air sumber kehidupan UMKM adalah daya beli masyarakat. Daya beli ini merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem ekonomi. Daya beli tercipta bukan hanya karena adanya uang, namun juga adanya keinginan untuk membeli. Keinginan ini dipengaruhi oleh persepsi dalam kepala kita.

Persepsi mendasari pilihan kita dalam membeli. Jika sebuah barang berhasil menanamkan persepsi positif, kemungkinan besar kita akan terpacu untuk membeli. Itulah manfaat dari iklan. Iklan dapat membentuk persepsi kita. Ini menjadi petunjuk bagi kita, karena sekarang kita sadar bahwa persepsi kita dapat diarahkan oleh pihak lain.

Saat ini persepsi kita akan UMKM seringkali negatif. Tidak sedikit masyarakat yang melhat UMKM sebagai usaha yang tidak jujur dan berdagang dengan cara curang seperti menggunakan boraks, bahan pewarna pakaian pada makanan, jamu palsu dan lain sebagainya. Akibatnya, ketika berhubungan dengan UMKM kita memandangnya dengan prasangka curiga.

Prasangka seperti ini bisa dikatakan baru muncul pada tahun-tahun terakhir ini. Buktinya, pada 1998 dan 2008 UMKM tetap berjaya dan menjadi penyelamat perekonomian Indonesia. Karena itu kita patut berpikir kritis mengenai kemungkinan adanya suatu hal yang mempengaruhi persepsi masyarakat luas mengenai UMKM. Dan seperti kita lihat, persepsi negatif ini berkembang bersamaan dengan munculnya berbagai acara televisi mengenai UMKM bertajuk investigasi.

Televisi Sang Pembentuk Persepsi

Kecurigaan ini bukannya tanpa alasan. Masyarakat Indonesia dan NTB tentunya tak dapat dipisahkan dari televisi.  Dalam sehari kita menghabiskan waktu 3-6 jam mengkonsumsi televisi. Sehingga televisi menjadi media massa paling penting di indonesia saat ini. Beragam program televisi pun turut membentuk kehidupan masyarakat. Contoh lebih mudahnya, hampir semua perusahaan menjadikan televisi sebagai media iklan utama, walaupun harus membayar mahal. Ini merupakan bukti nyata bahwa televisi memiliki kemampuan sangat besar dalam mengarahkan persepsi kita.

Water Lippman mengatakan, media berperan sebagai mediator  antara “the world outside and the picture in our heads” (Dunia di luar kita dengan gambaran/persepsi kita tentang dunia). Maka, ketika televisi menceritakan mengenai kecurangan yang dilakukan UMKM, persepsi kita pun ikut terbentuk sesuai dengan skenario yang ditawarkan televisi.

Kita harus memandang televisi dengan kritis dan cerdas. Televisi bukanlah pihak netral, kita dapat melihat hal ini dengan jelas pada pemilu presiden 2014 lalu. Saat itu hampir semua televisi memunculkan berita baik bagi calon presiden yang didukungnya dan menjelek-jelekan calon presiden lainnya. Karena itu, Kita harus bangun dari ilusi yang menyatakan bahwa pers dan media menceritakan kebenaran, padahal informasi yang dianggap kebenaran tersebut telah diseleksi, disaring dan dibentuk oleh media. Dalam ilmu komunikasi disebut sebagai agenda setting.

Agenda Setting adalah teori yang menyatakan media massa bertindak sebagai pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

Terkadang penentuan isu tersebut dilakukan tanpa mempertimbangkan kepentingan riil dari masyarakat misalnya keputusan TVOne untuk menganggap kasus Mirna dan Jessica sebagai kasus mahapenting sehingga perlu ditayangkan berjam-jam setiap hari dengan menghadirkan berbagai pakar di bidangnya. Sedangkan persidangan berbagai kasus korupsi justru dipinggirkan.

Program televisi mengenai UMKM pun harus kita nilai secara kritis. Tidak menutup kemungkinan tayangan ini tidak bebas kepentingan.

Kecil Ditindas, Besar Melenggang Bebas

Pertanyaan pertama yang dapat kita lontarkan terhadap berbagai tayangan investigasi UMKM yaitu, mengapa hanya usaha kecil yang mendapatkan sorotan sedangkan usaha skala besar tak pernah sekalipun di investigasi. Seperti misalnya Mall, restoran besar, pabrik pembuatan snack anak-anak dan lainnya. Padahal kita ketahui bersama, banyak makanan tak aman dapat beredar dengan bebas. Bahkan bumbu masak kita pun memiliki resiko kanker.

Pertanyaan kedua yaitu cara penggambaran dilakukan dengan jalan menghakimi pelaku usaha kecil tersebut. Diceritakan seakan-akan kecurangan tersebut dapat terjadi dimana pun karena mudahnya memperoleh bahan kimia pengawet. Membuat kita berpikir penjual bakso di dekat rumah juga bisa saja melakukan hal sama. Prasangka ini tentu tak masuk akal, karena jika seluruh usaha kecil berbuat curang maka seharusnya ratusan juta rakyat Indonesia tidak ada yang selamat. Bukankah 99,8% bentuk usaha di Indonesia merupakan UMKM. Sehingga UMKM seluruh Indonesia dalam sehari melayani ratusan juta pembeli.

Di sisi lain, UMKM merupakan satu bentuk usaha yang unik. Ia hidup dan berkembang dengan mencari pembeli/pelanggang sebanyak-banyaknya, di mana pembeli/pelanggan ini dapat bertemu dengan pemilik usaha secara langsung. Tak jarang pelanggan dan penjual hidup dalam lingkungan yang sama. Jika penjual berbuat curang, itu artinya sama saja dengan bunuh diri.

Secara nalar dapat kita pastikan hanya ada sedikit UMKM yang nakal. Hal ini harus dijelaskan secara gamblang dalam acara tv tersebut. Karena, kenyataan yang terjadi hari ini seringkali akibat nila setitik rusak susu sebelanga.

 

Jika persepsi negatif akan UMKM terus berkembang, dampaknya dapat sangat besar. Ada begitu banyak manusia yang menggantungkan hidupnya di sektor ini. Di NTB sendiri, dari 644.708 usaha yang berjalan , 89,81% atau 579.008 terdiri dari usaha mikro , 9,66% atau 62.339 usaha kecil serta 0,46% atau 2.947 usaha menengah. Hanya 0,01% atau 414 yang merupakan usaha besar (data Dinas Koperasi dan UMKM November 2015). Otomatis UMKM menyerap lebih dari 90% tenaga kerja.

Kita juga harus sadar, sebagian besar televisi kita dimiliki oleh swasta dan bertujuan meraih keuntungan sebesar-besarnya. Para pemilik televisi inilah sang pengendali sebenarnya. Penguasaan total atas televisi yang memiliki pengaruh begitu besar bagi mayoritas masyarakat Indonesia bukan tidak mungkin menyebabkan penyalahgunaan kekuasaan.

Di sini, media pun dapat berubah menjadi sarana untuk menjalan kekuasaan dan kontrol sosial. Oleh karena itu kita harus dapat melakukan seleksi ketat atas berbagai tayangan televisi dan mampu berpikir kritis mengenai tayangan tersebut. Kita harus menjadi penonton yang cedas, sehingga kita mampu memanfaatkan televisi demi kepentingan dan kemajuan kita,anak kita dan masyarakat umum, bukan sebaliknya.

Penulis: Arief Sofyan Ardiansyah
(Pembuat Naskah Pidato Pemimpin Daerah dan Admin Website Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB)