Radikalisme dan Terorisme, Sebuah Perjodohan yang Dipaksakan (1)

Rabu, 15 Februari 2017 - 08:53:28 WIB
Oleh: Admin Humas NTB
Dibaca 191 kali
 | Kategori: Opini

Dunia saat ini dipenuhi oleh berbagai macam perbincangan mengenai terorisme. Mengenai Kejahatan para teroris yang membunuh korbannya tanpa perasaan, menembak membabi buta, meledakkan bom di tengah keramaian. Lucunya, para teroris melakukan semua itu dilandasi dengan cita-cita suci, hendak membangun masyarakat ideal. Bagi teroris yang mendaku membawa bendera Islam, mereka hendak mendirikan masyarakat Islam yang adil. Begitu juga dengan teroris lainnya, masing-masing membawa cita – cita suci.

Para pengamat melihat dan menilai, bahwa tindakan semua teroris didasarkan pada ide radikalisme yang berkembang dalam jiwa mereka. Radikalisme kemudian dterjemahkan sebagai tindakan penuh kekerasan demi mencapai tujuan. Lalu, tak lama kemudian, radikalisme dilekatkan berdampingan dengan terorisme. Perjodohan keduanya terjadi secara mendadak.

Pembunuhan massal dan cita-cita suci memang dua hal yang susah berjodoh di kepala masyarakat umum. Namun berbeda dengan radikalisme dan terorisme, kedua hal ini begitu mudah bersatu dalam benak masyarakat. Hubungan keduanya segera direstui secara tergopoh-gopoh dan direproduksi dalam arena diskursif (pembicaraan) oleh banyak pihak.

Padahal, perjodohan radikalisme dan terorisme bisa dikatakan prematur. Hubungan keduanya baru terjalin akhir-akhir ini. Radikalisme sendiri telah lama berkembang dan memiliki akar historis mendalam di Indonesia.

Radikalisme di Indonesia

Radikalisme mempunyai sejarahnya yang panjang di Indonesia. Azas radikalisme digunakan oleh Soekarno dalam usahanya melawan kapitalisme dan imperialisme yang menjajah Indonesia. Dalam sebuah risalah berjudul “Mentjapai Indonesia Merdeka” yang diterbitkan tahun 1933, Bung Karno menulis,

Radikalisme – terambil dari perkataan “radix” yang artinja “akar”, – radikalisme haruslah azas machtsvorming Marhaen (pembentukan kuasa politik kaum Marhaen); berjuang tidak setengah-setengahan;tawar-menawar, tetapi terjun sampai ke akar-akarnya antithese, tidak setengah-setengahan hanya mentjari “untung ini hari” sadja, tapi mau menjebol stelsel kapitalisme-imperialisme sampai keakar-akarnya.

Radikalisme ini kemudian menjadi nyawa perjuangan bangsa yang mau mencabut kuasa imperialisme dan kapitalisme penjajah Indonesia dengan semboyan “Merdeka atau Mati”. Radikalisme inilah yang membuat para Ulama, santri, masyarakat, para militer dan lainnya bahu membahu berperang melawan pasukan internasional (sekutu) yang berusaha mengambil kembali Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan. Radikalisme inilah yang membuat Indonesia dapat bertahan sebagai sebuah bangsa dan negara yang merdeka. Berkat semangat radikalisme, para pemuda rela berjuang mempersembahkan nyawa satu-satunya ke bumi pertiwi. Jika radikalisme memiliki dampak yang begitu baik, maka tidak masuk akal jika saat ini, segala yang berbau radikalisme dikaitkan dengan terorisme.

Radikalisme sama sekali berbeda dengan terorisme. Pemuda yang ingin merubah sistem ekonomi Indonesia yang saat ini sangat liberal menjadi sistem ekonomi syariah/Islam tentulah memiliki ide dan tindakan yang radikal. Pelekatan radikalisme dengan terorisme akan membunuh semangat perjuangan yang menghendaki perubahan. Akankah kita berkata bahwa Bung Karno merupakan seorang teroris karena ia mengajarkan kita menjadi radikal? Tentu saja tidak. Hal itu sama sekali tak masuk akal.

Lagipula pelekatan tersebut didasari oleh prasangka semata dan tidak logis. Katanya, radikalisme memang tak selalu menjadi teroris namun semua teroris pasti memiliki pandangan radikal, karena itulah radikalisme harus kita lawan. Pandangan ini memiliki logika seperti ini, tak semua pisau digunakan untuk membunuh, namun semua pembunuh pasti menggunakan pisau, maka kita harus melarang pisau bebas beredar. Jika begitu, lalu bagaimana para ibu akan memasak? Prasangka ini tentunya tidak sehat dan harus diluruskan.

Penulis: Arief Sofyan Ardiansyah
Pembuat Naskah Pidato dan Admin Website Biro Humas Protokol Provinsi NTB