Radikalisme dan Terorisme, Sebuah Perjodohan yang Dipaksakan (2)

Rabu, 15 Februari 2017 - 08:55:10 WIB
Oleh: Admin Humas NTB
Dibaca 351 kali
 | Kategori: Opini

Teror dan Terorisme

Terorisme sendiri memiliki akar bahasa “teror”. Dilihat dari akar bahasa ini saja, kita sudah dapat melihat makna kata terorisme. Secara bebas kita bisa memaknai sebagai paham yang mengajarkan penganutnya untuk menggunakan teror dalam mencapai cita-cita idealnya.

Indonesia belum lama ini diguncang aksi teror bom yang sempat menghebohkan Ibu Kota. Semenjak reformasi bergulir, Indonesia telah diguncang oleh puluhan serangan bom. Seluruh pelakunya diklaim sebagai teroris yang menganut paham terorisme.

Namun, penyebutan teroris ini tidak hanya dilekatkan pada penjahat semata. Sebutan teroris juga dapat disematkan pada pahlawan, seperti ketika Zionis Israel menyebut Hamas sebagai teroris yang mempertahankan Gaza dari serangan Israel. Di mata penduduk Gaza, Hamas merupakan pahlawan, sedangkan di mata zionis Israel, mereka adalah teroris. Maka, penyebutan kata teroris dan terorisme tak sepenuhnya bergantung pada makna, namun lebih kepada kepentingan. Hal yang sama terjadi pula dalam penyebutan kata radikal dan radikalisme. Bung Karno menyebut Radikalisme sebagai azas perjuangan sedangkan penjajah bisa saja melihatnya sebagai azas terorisme dan kekacauan masyarakat.

Praktek Kuasa dalam Kata

Penggunaan kata atau praktek pemaknaan menjadi sebuah bentuk operasi kuasa (exercise power) untuk melakukan dominasi terhadap pihak lain. Michel Foucault memiliki pandangan menarik dalam melihat ini. Menurutnya, operasi kuasa tidak selalu bekerja melalui penindasan dan represi, tetapi terutama melalui regulasi dan normalisasi. Kuasa tidak bersifat subjektif. Kuasa tidak dapat dilihat dari perfektif dialektif bahwa seseorang menguasai orang lain. Kuasa juga tidak bekerja dengan cara negatif dan represif, melainkan dengan cara positif dan produktif.kuasa dapat memproduksi realitas; kuasa memproduksi lingkup objek dan ritus-ritus kebenaran.

Praktek penyebutan radikalisme dan terorisme bersandar pada kuasa yang sama. Berkat perjodohan dua kata ini, maka segala ide dan tindakan yang menjurus pada radikalisme menjadi terlarang. Ketika sekelompok atau seseorang diberikan cap sebagai seorang radikal, maka saat itu juga ia menjadi tertuduh teroris. Cap radikalisme terorisme memiliki kuasa luar biasa dalam meminggirkan pihak –pihak tertuduh.

Salah Kaprah Anti Radikalisme dan Terorisme

Saat ini, segala upaya dilakukan untuk mencegah timbulnya radikalisme, baik lewat seminar, deklarasi, ataupun memasukkannya dalam materi pelajaran. Terorisme sebagai inti masalah justru tidak mendapatkan perhatian. Kita pun seakan mendiamkan berkembangnya faktor-faktor penyebab suburnya terorisme. Pupuk penyubur benih teror, menurut Wakil Presiden, Jusuf Kalla dalam pidatonya di New York, 29 September 2015, yaitu pemahaman agama yang dangkal disertai dengan frustasi sosial akibat sempitnya ruang bagi kebebasan sipil dan politik, serta ruang untuk menyampaikan perbedaan pendapat secara damai yang sangat kecil. Benih terorisme juga menemukan lahan suburnya ketika terjadi ketidakadilan sosial, marjinalisasi, kemiskinan yang merajalela, konflik jangka panjang dan perasaan tidak aman.

Melihat hal ini, seharusnya langkah paling baik untuk melawan terorisme dilakukan dengan menghancurkan ekosistem tempat hidupnya, dengan menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, memperbaiki kondisi ekonomi dan melawan marjinalisasi serta memperjuangkan demokrasi politik dan ekonomi. Serangan langsung dilancarkan pada jantung terorisme, bukan malah menghabiskan tenaga dalam menghancurkan semangat radikalisme.

Sebenarnya, radikalisme ini justru dapat menjadi senjata ampuh dalam upaya melawan terorisme, misalnya dengan mengarahkan radikalisme dalam Islam ke arah yang seharusnya. Islam merupakan agama yang menjadikan perdamaian alam semesta sebagai tujuan. Perdamaian takkan terwujud jika penindasan, eksploitasi, marjinalisasi manusia oleh sesamanya masih terjadi. Karena itu, radikalisme dalam Islam adalah jihad melawan melawan ketidakadilan dengan cinta kasih. Contohnya mungkin seperti yang dikatakan Bung Karno, kaum Marhaen merupakan kaum radikal yang cinta damai.

Saatnya Radikalisme dan Terorisme Bercerai

Radikalisme merupakan hal yang berbeda dengan terorisme. Tak sepantasnya keduanya dipaksakan berjodoh dan berjalan beriringan dalam arena diskursif publik. Radikalisme memberikan kita semangat berjuang, sejarah telah membuktikannya. Tak seharusnya kita melupakan sejarah, terlebih sejarah kelahiran Indonesia sebagai bangsa di mana radikalisme menjadi bagian darinya.

Ibnu Khaldun sendiri menempatkan sejarah dalam posisi istimewa dalam ilmu pengetahuan. Dalam karangannya berjudul Al-Muqaddimah yang ditulis pada abad ke-14, di halaman pertama ia menjelaskan, bahwa ilmu sejarah merupakan ilmu yang mulia madzabnya, besar manfaatnya dan bertujuan agung. Maka tak salah bila Soekarno berujar Jas Merah , jangan pernah melupakan sejarah. Dan sejarah mengatakan, bahwa radikalisme dan terorisme memang tak seharusnya berjodoh. Perjodohan itu harus segera diakhiri.

Penulis: Arief Sofyan Ardiansyah
(Pembuat Naskah Pidato Pemimpin Daerah dan Admin Website Biro Humas dan Protokol Provinsi NTB)